
Depok – Pengurus LAZISNU Kota Bogor mengikuti Workshop Manajemen Risiko dan Sistem Informasi Manajemen (SIM) yang diselenggarakan LAZISNU Kota Depok pada Jumat (14/8/2026) di Sekretariat PCNU Kota Depok. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas kelembagaan amil zakat dalam pengelolaan organisasi yang profesional, akuntabel, dan berkelanjutan.

Workshop menghadirkan sejumlah narasumber dari jajaran pengurus LAZISNU Kota Depok yang berbagi pengalaman dalam membangun tata kelola lembaga, penguatan fundraising, manajemen risiko, serta pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana umat.

Ketua LAZISNU Muhtar Said menekankan pentingnya membangun gerakan bersama dengan melibatkan seluruh struktur dan badan otonom Nahdlatul Ulama. Menurutnya, penguatan Unit Pengumpul Zakat, Infak, dan Sedekah (UPZIS) di tingkat MWCNU maupun ranting harus diawali dengan pendekatan sosial melalui silaturahmi dan komunikasi yang baik kepada masyarakat.
“Umat NU membutuhkan tegur sapa dan kedekatan. Penempatan kotak amal di warung, toko, maupun lingkungan keluarga harus didahului dengan komunikasi yang baik sehingga terbangun kepercayaan dan kebersamaan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pelaporan berkala merupakan instrumen penting dalam menjaga akuntabilitas lembaga. Setiap program perlu dievaluasi secara terukur melalui data dan laporan tertulis agar dapat diketahui faktor keberhasilan maupun kendala yang dihadapi.
Selain itu, peserta mendapatkan materi mengenai mitigasi risiko dalam pengelolaan kotak amal, fundraising, serta pentingnya membangun budaya evaluasi sebagai dasar pengambilan keputusan organisasi.
Sementara itu, Ketua PCNU Kota Depok, KH. Achmad Solechan alias Mas Alech, menyampaikan apresiasinya terhadap perkembangan LAZISNU di berbagai daerah. Ia menilai bahwa eksistensi dan konsistensi merupakan kunci utama dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap lembaga zakat.
“Kepercayaan tidak dibangun dalam waktu singkat. Dibutuhkan proses panjang, konsistensi, dan kedisiplinan dalam menjalankan amanah. Jika dilakukan secara istiqamah, hasilnya akan terlihat dan kepercayaan masyarakat akan tumbuh,” katanya.
Menurutnya, LAZISNU memiliki posisi strategis sebagai motor penggerak berbagai program Nahdlatul Ulama karena didukung oleh partisipasi dan dana umat. Oleh sebab itu, penguatan tata kelola, digitalisasi layanan, serta publikasi program harus terus ditingkatkan.
Dalam sesi berbagi pengalaman, pengurus LAZISNU Kota Depok menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah berdiri hampir tujuh tahun. Lima tahun pertama difokuskan pada sosialisasi dan penguatan kelembagaan hingga berhasil membentuk jaringan sebanyak 69 UPZIS dan JPZIS di Kota Depok.
Selain itu, LAZISNU Kota Depok juga mengembangkan Madrasah Amil sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia. Setiap calon pengelola melalui proses asesmen dan profiling yang mencakup sejumlah variabel penilaian sebelum diberikan amanah dalam pengelolaan zakat, infak, dan sedekah.
Pengelolaan data muzaki dan mustahik yang sistematis, pelaporan yang konsisten, serta keterlibatan berbagai unsur NU seperti Ansor dan Pagar Nusa dalam kegiatan fundraising menjadi salah satu faktor keberhasilan lembaga tersebut. Hingga Agustus 2026, penghimpunan dana LAZISNU Kota Depok tercatat telah mencapai sekitar Rp15 miliar.
Delegasi LAZISNU Kota Bogor yang hadir dalam workshop ini menyambut positif berbagai materi dan praktik baik yang disampaikan. Pengalaman LAZISNU Kota Depok diharapkan dapat menjadi referensi dalam memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kapasitas fundraising, serta mengembangkan sistem informasi yang terintegrasi demi mewujudkan pelayanan yang semakin profesional dan terpercaya bagi masyarakat.
Pewarta: Abdul Mun’im Hasan