
Kota Bogor – Di tengah berkembangnya berbagai majelis taklim dengan format yang beragam, Majlis Al Pos Rondawiyah hadir dengan konsep yang unik dan membumi. Berpusat di Pos Ronda Villa Bogor Indah RT 11, Kota Bogor, majelis ini menjadi ruang belajar agama yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang sosial maupun kebiasaan kesehariannya (12/8/26).
Majlis Al Pos Rondawiyah berdiri pada 30 Juni 2018 atas inisiatif Gus Zahrul Muttaqien, Harjanto, dan KH. Khotimi Bahri yang saat ini menjabat sebagai Katib PCNU Kota Bogor sekaligus menjadi pengasuh majelis tersebut. Pengajian rutin diselenggarakan setiap pekan keempat setiap bulan dengan pendekatan yang santai, dialogis, dan akrab.

Nama “Al Pos Rondawiyah” diambil dari lokasi pengajian yang dilaksanakan di Pos Ronda Villa Bogor Indah. Dari tempat yang sederhana itu lahir sebuah forum keilmuan yang mampu menarik peserta dari berbagai kalangan masyarakat.Majelis ini mengusung slogan “3 NG”, yakni Ngopi, Ngudut, dan Ngaji. Slogan tersebut menggambarkan suasana pengajian yang cair dan tidak kaku.
Para peserta dapat mengikuti kajian sambil menikmati kopi dan, bagi yang merokok, tetap diperbolehkan melakukannya selama menjaga adab dan ketertiban majelis.Menurut KH. Khotimi Bahri, pemilihan Pos Ronda sebagai tempat pengajian bukan tanpa alasan.
Konsep tersebut dirancang agar masyarakat yang selama ini merasa kurang nyaman mengikuti pengajian formal tetap memiliki ruang untuk belajar agama.“Peserta yang hadir berasal dari beragam latar belakang.
Ada yang tidak terbiasa memakai sarung, ada yang tidak kuat duduk bersila dalam waktu lama, bahkan ada yang sulit meninggalkan kebiasaan merokok. Namun mereka memiliki satu tujuan yang sama, yaitu belajar agama dan memperbaiki kualitas ibadah,” ujarnya.
Selama lebih dari delapan tahun berjalan, Majlis Al Pos Rondawiyah telah menamatkan kajian kitab Fathul Qorib, salah satu kitab fikih dasar yang banyak dipelajari di pesantren. Saat ini para jamaah tengah mengkaji kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali yang memadukan pembahasan fikih, muamalah, dan nilai-nilai tasawuf.
Pelaksanaan pengajian dimulai sekitar pukul 20.30 WIB dan kerap berlanjut hingga dini hari. Kegiatan dibagi menjadi dua termin utama. Termin pertama berisi kajian kitab yang dilanjutkan sesi tanya jawab hingga sekitar pukul 22.30 WIB.
Sementara termin kedua membahas berbagai persoalan aktual yang berkembang di masyarakat dengan pendekatan fiqih dan rujukan kitab-kitab turats.Dalam tradisi pesantren, pembahasan tersebut dikenal dengan istilah masa’il waqi’iyah, yakni kajian terhadap persoalan-persoalan kontemporer yang dikaji berdasarkan khazanah keilmuan Islam klasik.
Menariknya, sesi kedua ini tidak dibatasi waktu dan sering kali berlangsung hingga melewati tengah malam.Karena sering berakhir setelah pergantian hari, jamaah bahkan memiliki istilah tersendiri, yakni “ngaji dua hari”, karena satu kali pertemuan berlangsung dalam dua tanggal yang berbeda.
Keberadaan Majlis Al Pos Rondawiyah menunjukkan bahwa dakwah Islam dapat dilakukan dengan pendekatan yang inklusif dan sesuai dengan karakter masyarakat. Dengan tetap berpegang pada tradisi keilmuan pesantren, majelis ini berhasil menghadirkan suasana belajar yang hangat, egaliter, dan mudah diterima oleh berbagai kalangan.
Pewarta: Abdul Mun’im Hasan