August 23, 2026

Wakil Ketua PCNU Kota Bogor: Haul Mama Abdullah bin Nuh Menjadi Pengingat Pentingnya Jejak Kebaikan

Dipublikasikan oleh Abdul Mun'im Hasan

Wakil Ketua PCNU Kota Bogor: Haul Mama Abdullah bin Nuh Menjadi Pengingat Pentingnya Jejak Kebaikan

Kota Bogor — Wakil Ketua PCNU Kota Bogor, Heri Firdaus yang akrab disapa Cak Her, menghadiri Haul ke-40 Mama KH. Raden Abdullah bin Nuh di YIC Al-Ghazaly, Kota Bogor, Minggu (23/8/2026).

Menurutnya, peringatan haul tersebut bukan hanya menjadi ajang mengenang sosok ulama besar, tetapi juga momentum untuk merefleksikan makna pengabdian dan warisan kebaikan yang ditinggalkan kepada umat.

Cak Her mengatakan, meskipun empat puluh tahun telah berlalu sejak wafatnya Mama KH. Raden Abdullah bin Nuh, nama dan perjuangannya tetap hidup di tengah masyarakat. Hal itu terlihat dari masih banyaknya jamaah yang hadir untuk mendoakan, mengenang, dan meneladani perjalanan hidup beliau.

“Jasad telah kembali kepada tanah, tetapi ilmunya masih dipelajari, pesantrennya masih hidup, dan masyarakat terus mengenang serta mendoakan beliau. Ini menunjukkan bahwa pengabdian yang tulus akan meninggalkan jejak yang panjang,” ujar Pembina LTN NU Kota Bogor.

Menurutnya, sosok Mama Abdullah bin Nuh merupakan teladan bagi generasi saat ini. Selain menempuh pendidikan hingga Al-Azhar, Mesir, beliau juga mengabdikan hidupnya untuk mengajar, menulis, berdakwah, berjuang untuk bangsa, serta membangun pendidikan Islam di Indonesia, khususnya di Bogor.

“Beliau tidak membiarkan ilmu berhenti sebagai pengetahuan semata. Ilmu dijadikan sebagai jalan pengabdian kepada masyarakat. Mungkin karena itulah, empat puluh tahun setelah wafatnya, masyarakat masih terus mengenang dan mengambil manfaat dari warisan perjuangannya,” katanya.

Lebih lanjut, Cak Her menilai haul memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar mengenang tokoh yang telah wafat. Haul menjadi sarana refleksi bagi setiap orang untuk menilai kembali jejak kehidupan yang sedang dibangun.

“Haul mengajarkan kita untuk bertanya kepada diri sendiri, apa yang akan tersisa dari hidup kita kelak. Sebab yang dikenang bukanlah panjangnya usia, banyaknya jabatan, atau besarnya popularitas, melainkan manfaat yang kita tinggalkan,” tuturnya.

Di tengah kehidupan modern yang sering diwarnai persaingan mencari pengakuan dan popularitas, lanjutnya, keteladanan Mama Abdullah bin Nuh memberikan pelajaran bahwa ukuran keberhasilan hidup terletak pada kebermanfaatan bagi sesama.

“Usia akan berakhir dan nama bisa saja dilupakan. Namun ilmu yang diwariskan, kebaikan yang ditanamkan, serta manusia yang menjadi lebih baik karena kehadiran kita akan terus hidup dan memberikan manfaat,” ujarnya.

Cak Her berharap semangat keilmuan, keikhlasan, dan pengabdian yang diwariskan Mama KH. Raden Abdullah bin Nuh dapat terus diteladani oleh generasi muda dan masyarakat luas.“Pada akhirnya, yang akan dikenang bukan seberapa lama nama kita disebut, tetapi seberapa lama kebaikan yang kita tanam terus bekerja setelah kita tiada,” pungkasnya.

Pewarta: Abdul Mun’im Hasan