Teladan Ikhlas dari Bogor Barat: Refleksi Satu Abad NU

Teladan Ikhlas dari Bogor Barat: Refleksi Satu Abad NU

Oleh: Zainal Abidin

Wakil Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi PCNU Kota Bogor

Ahad, 1 Februari 2026, Plaza Balaikota Bogor menjadi saksi bisu berkumpulnya ribuan warga Nahdliyin. Di bawah langit yang sesekali meneteskan gerimis, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor merayakan tonggak sejarah yang luar biasa: Satu Abad Nahdlatul Ulama.Perayaan ini bukan sekadar seremoni.

Dari Jalan Santai mengelilingi Kebun Raya Bogor, pameran foto sejarah, hingga bazar UMKM, semuanya adalah manifestasi dari perjalanan panjang NU sejak awal 1900-an. Puncaknya, pemotongan tumpeng bersama para ulama dan tokoh Forkopimda menjadi simbol syukur atas kiprah NU yang tak lekang oleh zaman.Namun, di balik hiruk-pikuk kemeriahan tersebut, ada satu fragmen kecil yang memberikan pelajaran besar bagi kita semua.

Semangat yang Melampaui UsiaDi tengah kerumunan, sosok Hj. Sri Suharyati mencuri perhatian. Di usianya yang telah menginjak 75 tahun, kader Muslimat asal Bogor Barat ini menunjukkan etos yang melampaui fisik rentanya. Beliau mengikuti seluruh rangkaian acara, termasuk berjalan kaki mengelilingi Kebun Raya Bogor tanpa jeda.

Saat saya berdialog dengannya, tak ada nada lelah dalam suaranya. Beliau menjawab setiap tanya dengan tangkas dan penuh antusias. Alasan di balik energinya yang meluap sederhana namun mendalam: Cinta.

“Beliau cinta NU, sehingga apa saja yang bisa dilakukan untuk organisasi ini, akan beliau lakukan dengan sepenuh hati.”

Ber-NU: Antara Struktur, Kultur, dan Keikhlasan Sosok Bu Hj. Sri adalah i’tibar (pelajaran) nyata bagi kita yang lebih muda. Beliau membuktikan bahwa ber-NU, jika dilandasi dengan keikhlasan dan niat yang lurus, maka segala beban akan terasa ringan. Inilah yang sering kita sebut sebagai keberkahan. Kemudahan yang didapatkan dalam berkhidmat bukanlah kebetulan, melainkan buah dari ketulusan.

Semangat beliau adalah tamparan sekaligus motivasi bagi para Nahdliyin dan Nahdliyat di Kota Bogor. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kita seringkali terjebak pada hitung-hitungan teknis dalam berorganisasi, hingga terkadang melupakan aspek ruhaniyah—yakni kegembiraan dalam berkhidmat.

Menuju Abad Kedua Selamat memperingati 100 tahun Nahdlatul Ulama. Dedikasi satu abad ini bukanlah garis finis, melainkan titik start menuju pengabdian yang lebih luas.Mari kita teladani energi Bu Hj. Sri Suharyati.

Semoga kita semua senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berkhidmat di NU, baik dalam jalur struktural maupun kultural. Sebab pada akhirnya, NU bukan sekadar organisasi besar, melainkan rumah besar bagi mereka yang ingin mencari keberkahan melalui pengabdian yang ikhlas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *